Hari ini pesta Demokrasi, ya ajang 5 tahunan di Indonesia di mana semua masyarakat Indonesia terlibat untuk menentukan nasib bangsa & negara kedepannya, gua sebagai mahasiswa tentu ingin ikut terlibat di dalam pesta ini, apalagi gua masih mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Politik, wah seru banget mantengin dinamika perpolitikan di Indonesia.
Pilihan pun di jatuhkan hanya pada 2, nomer 1 dan nomer 2, dua kubu sama-sama gencar dalam melakukan kampanyenya ada yang lewat sosial media, berita atau yang paling membuat saya prihatin adalah mereka berkampanye dengan menggunakan media nasional, hmm mentang-mentang tim koalisinya ada yang punya media, ingat bapak ibu 'air, tanah, udara adalah milik rakyat' So ? ya belum kepilih aja udah nyuri hak rakyat gimana nanti kalo udah di amanahin #MelekMedia
yaa tapi mau nggak mau memang harus memilih salah satu, gua teringat kata-kata pak Anies Baswedan "Dulu Golput adalah Perlawanan, sekarang Golput adalah Pembiaran" sepakat pak, kalau hari ini kita golput kita membiarkan nasib bangsa ditangan orang yang belum tentu ideal bagi kita, nantinya kita hanya akan jadi penggerutu/komentator, padahal ga terlibat dalam prosesnya. Oke lanjut, gua pun memilih untuk diam awalnya, ga mau salah pilih dan banyak omong dulu, namun gua selalu telusuri kedua calon itu dengan teliti, hemm dari mulai debat, berita di media sampai kampanye-kampanye baik itu positive, negative, white & black. Ah akhirnya gua menemukan sosok baru, ya dia antitesa dari semua sosok sebelumnya yang pernah memimpin Indonesia, akhirnya dengan banyak pertimbangan sambil mengikuti perkembangan gua memutuskan memilih dia, iya si nomer 2 bapak Joko Widodo.
Gua banyak berdiskusi dengan mahasiswa sebelumnya tentang sosok jokowi ini, ada yang bilag 'ah, jokowi cuman sosok pembawa harapan', 'alah, jokowi ? dia tuh tokoh yg besar karena media bukan jasanya'. but but but setelah gua pikirkan baik-baik mereka keliru, yaa rekam jejak pak jokowi jelas di solo maupun jakarta, dia datang membawa stimulus yang bisa membangkitkan seluruh "Instrumen" negara yang tertidur, apalagi dengan visi dia "Revolusi Mental", wow gua langsung mikir, gua banget nih! akhirnya gua memutuskan, gua harus nularin JokowiEffect nih ke orang banyak, dari situlah gua mulai menyuarakan dan menjadi relawan dari joko widodo, walaupun hanya sekedar lewat SosMed sih.
Tapi apa hubungan pernyataan diatas sama judul tulisan ini "BICARA NURANI ?", nah disini permasalahan dimulai, batin gua bergolak, disaat gua mendeklarasikan dan memantapkan diri untuk memilih pak jokowi, orang tua gua nyuruh gua buat milih nomer 1, ah gilaa gua langsung mikir "gua punya hak, ini negara demokrasi" tapi gua ga sanggup juga untuk bohong dan bilang gua juga pilih nomer 1. Akhirnya NURANI gua BICARA, gua pun datang ke TPS dengan sedikit ragu, sampai di kotak pemilihan gua mikir dan ah gua ga bisa khianatin nurani dan hati, mantap gua coblos nomer 2, maaf ya pah mah :')
Kata orang-orang bijak "Hidup adalah Pilihan", iya memilih 1 atau 2, kita selalu dihadapkan dengan pilihan, mana yang lebih baik ? mungkin hanya Tuhan yang tahu, manusia hanya bisa berharap dan merencanakan. Semoga "tanda" biru di tangan gua tidak hanya membekas di jari dan nurani tapi juga bisa memajukan ibu pertiwi :) Salam Perubahan!